Skip to Content

Kopri PKC Sulsel Luncurkan Buku "Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan" Abadikan Jejak Perempuan Lewat Tradisi Menulis

June 27, 2026 by
Kopri PKC Sulsel Luncurkan Buku "Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan" Abadikan Jejak Perempuan Lewat Tradisi Menulis
Korps PMII Putri Sulawesi Selatan
| No comments yet

Barru – Di tengah rangkaian pembukaan Sekolah Kader Kopri (SKK) oleh Korps PMII Puteri (Kopri) PKC PMII Sulawesi Selatan menghadirkan sebuah karya yang menjadi penanda penting gerakan intelektual organisasi. Buku berjudul "Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan" resmi diluncurkan di Baruga Petta Adae, Gedung Mal Pelayanan Publik Kabupaten Barru pada tanggal 27 Juni 2026 sebagai bentuk ikhtiar mendokumentasikan peran perempuan Sulawesi Selatan yang selama ini kerap tercecer dari narasi sejarah.

Prosesi peluncuran diawali dengan pemutaran video bertajuk:

"Setiap zaman meninggalkan kisah, namun tidak setiap kisah dituliskan. Berlembar-lembar catatan, semua bermuara pada satu karya. Kopri PKC PMII Sulsel mempersembahkan: Buku Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan."

Video tersebut menjadi penanda bahwa buku bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan upaya merawat ingatan kolektif tentang kontribusi perempuan dalam membangun peradaban di Sulawesi Selatan.

Buku ini merupakan hasil kolaborasi sepuluh kader Kopri dari berbagai cabang, yakni Nur Jamilah Ambo (Kota Parepare), Eka Paramita (Bone), Yuliana (Gowa), Adriana (Bone), Sanawiyah (Enrekang), Rosmayanti (Kota Palopo), Aisyah Djauhar (Kota Parepare), Syamsinar (Sidrap), Fitri (Barru), dan Andi Tenri Wuleng (Gowa). Seluruh tulisan diterbitkan oleh Publica Indonesia Utama.

Ketua Kopri PKC PMII Sulawesi Selatan, Wahyuni Ayu Safitri, mengatakan bahwa penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari transformasi kaderisasi yang tidak hanya melahirkan aktivis lapangan, tetapi juga kader yang mampu menghasilkan karya intelektual. "Gagasan yang ditulis jauh lebih diingat daripada gagasan yang hanya didengar sesaat," ujarnya.

Menurut Wahyuni, organisasi perempuan tidak cukup hanya aktif menyelenggarakan forum diskusi atau aksi sosial. Gagasan yang lahir dari ruang-ruang kaderisasi harus didokumentasikan agar dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya. Melalui buku, ide tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi warisan intelektual yang dapat terus dibaca, dikritisi, dan dikembangkan.

Mewakili Ketua PKC PMII Sulawesi Selatan, Ramli, mengapresiasi langkah Kopri yang mulai membangun tradisi literasi di lingkungan organisasi. "Melihat wujud nyata pergerakan Kopri hari ini, saya teringat kutipan seperti ini, 'Jika kita ingin mengenal dunia maka membacalah, jika ingin dikenal dunia maka menulislah.' Hari ini Kopri Sulsel telah melakukan itu dan hari ini telah resmi diluncurkan," katanya.

Ia menilai peluncuran buku menjadi bukti bahwa kaderisasi tidak hanya menghasilkan pemimpin organisasi, tetapi juga penulis yang mampu menyumbangkan gagasan bagi masyarakat. Baginya, menulis merupakan salah satu bentuk pengabdian intelektual yang memiliki daya hidup lebih panjang dibandingkan pidato atau diskusi yang hanya berlangsung sesaat.

Apresiasi juga datang dari Bendahara Kopri PB PMII, Zumrotun Nafisah, yang mengaku terharu melihat lahirnya karya tersebut. "Buku semacam ini pernah saya impikan saat menjabat Ketua Kopri PKC Jawa Timur. Rencana saya saat itu adalah mengajak kader-kader Kopri menyusun antologi tentang perjuangan perempuan di Jawa Timur, namun belum bisa terealisasi. Hari ini Kopri PKC Sulsel mampu merealisasikan hal itu dan akan saya sampaikan kepada seluruh Kopri PKC PMII se-Indonesia," ungkapnya.

Menurut Zumrotun, keberhasilan menerbitkan buku secara kolektif menunjukkan bahwa kaderisasi Kopri telah berkembang ke arah yang lebih produktif. Ia berharap langkah tersebut dapat menjadi inspirasi bagi Kopri di berbagai daerah untuk mulai membangun budaya riset dan menulis sebagai bagian dari gerakan organisasi.

Peluncuran buku Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan juga memperlihatkan wajah baru kaderisasi Kopri yang menggabungkan tradisi berpikir kritis dengan tradisi menulis. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan menghasilkan karya berbasis kajian menjadi modal penting agar organisasi tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi juga produsen pengetahuan.

Lebih dari sekadar dokumentasi sejarah, buku ini menjadi pengingat bahwa banyak perempuan Sulawesi Selatan telah memberi kontribusi besar terhadap perjalanan peradaban, namun belum seluruh kisah mereka tercatat dalam literatur. Melalui karya tersebut, Kopri PKC PMII Sulawesi Selatan berupaya menghadirkan kembali narasi-narasi yang selama ini kurang mendapat ruang dalam historiografi arus utama.

Peluncuran buku ini sekaligus menegaskan bahwa Sekolah Kader Kopri bukan hanya ruang mencetak pemimpin organisasi, tetapi juga ruang melahirkan penulis, peneliti, dan intelektual perempuan. Sebab, sebagaimana pesan yang mengawali peluncuran buku itu, setiap zaman memang meninggalkan kisah, tetapi hanya kisah yang dituliskan yang memiliki kesempatan hidup melampaui zamannya. (KPR)


Kopri PKC Sulsel Luncurkan Buku "Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan" Abadikan Jejak Perempuan Lewat Tradisi Menulis
Korps PMII Putri Sulawesi Selatan June 27, 2026

Share this post

Archive

Sign in to leave a comment