Skip to Content

Dibalik Boneka Lampu Merah: Kisah Gadis 19 Tahun Penopang Keluarga

Feature berbasis Advokasi oleh Tim Raper Parepare
December 3, 2025 by
Dibalik Boneka Lampu Merah: Kisah Gadis 19 Tahun Penopang Keluarga
Korps PMII Putri Sulawesi Selatan
| No comments yet

Sumber foto: Dokumentasi tim Raper Parepare


Persimpangan lampu merah Lapadde, Parepare saat ini menjadi panggung kecil bagi mereka yang mencari nafkah. Di antara raga-raga yang lalu-lalang, terlihat sosok seorang perempuan muda mengenakan kostum berbentuk boneka dan memegang sebuah kaleng bekas berlapis lakban di tangannya. Di balik kostum itu tersimpan cerita yang tak mudah diucapkan.

Ketika tim Ruang Aman Perempuan (Raper) Parepare melakukan observasi pada 29 November 2025, perempuan itu bercerita tentang hidupnya yang berubah ketika usianya baru 13 tahun. Ketika ayahnya meninggal dunia, hilang pulalah penghidup keluarganya. Sejak itu, ia tidak lagi melanjutkan sekolah karena tidak ada keluarga lain yang mampu membiayai pendidikannya.

“Waktu itu saya SMP kelas satu. Setelah bapak meninggal, tidak ada yang bisa biayai sekolah,” ujarnya dengan suara yang pelan.

Ibunya bekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu. Mereka tinggal bersama dua adik yang sering kali kekurangan makanan dan kebutuhan dasar. Dalam keadaan yang serba sulit itu, pilihan satu-satunya yang tampak mungkin adalah ikut membantu mencari uang demi kebutuhan sehari-hari. 

Sekolah tidak lagi menjadi prioritasnya. Menjadi tulang punggung keluarga di usia belia membawa beban yang berat. Pendidikan terhenti bukan karena kemauan, melainkan keharusan. Tanpa keterampilan dan tanpa ijazah, pekerjaan yang tersedia bagi perempuan itu sangat terbatas. Maka ia memilih berdiri di lampu merah, mengenakan kostum boneka, dan menggantungkan harapan pada orang-orang yang lewat. Sebuah kaleng kecil di tangannya menjadi penentu seberapa cukup nasi untuk hari itu.

Awalnya malu dan sedih. Lambat laun ia mengakui, ia mulai terbiasa. Namun kebiasaan itu tidak menghapus rasa ingin bekerja secara layak, hanya saja pendidikan yang terputus menjadi penghalang besar.

Dampak sosial dan psikologisnya nyata, perlakuan kurang baik dari orang sekitar, perasaan malu, dan keterbatasan yang terus menghimpit. Meski begitu, ia menyimpan harapan sederhana, bisa mengikuti pelatihan kerja atau kursus sederhana agar memperoleh pekerjaan yang lebih layak, dan yang terpenting adalah adik-adiknya dapat terus bersekolah, tidak seperti dirinya.

“Yang penting adik-adik saya bisa terus sekolah,” katanya.

Temuan dari observasi Raper ini menjadi pengingat pahit bahwa ada warga, terutama anak perempuan, yang sering luput dari perhatian formal. Mereka hidup di pinggir sistem, tidak tercatat, tidak terlayani, tetapi menanggung akibat kebijakan dan kondisi ekonomi yang rapuh.

Kisah perempuan ini bukan hanya cerita perorangan. Ia mewakili wajah-wajah lain yang mengalami putus sekolah karena kehilangan penopang keluarga dan terpaksa menjadikan jalanan sebagai sumber nafkah. Suara mereka perlu didengar, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mendorong langkah nyata. Pemerintah kota mesti memberikan akses pendidikan, pelatihan keterampilan, dan perlindungan sosial yang menyentuh keluarga rentan.

Di balik kostum boneka dan kaleng di tangannya itu, ia masih memiliki impian masa depan yang lebih baik untuk adik-adiknya dan kehidupan yang tak lagi bergantung pada lampu merah.


in News
Dibalik Boneka Lampu Merah: Kisah Gadis 19 Tahun Penopang Keluarga
Korps PMII Putri Sulawesi Selatan December 3, 2025

Share this post

Our blogs

Archive

Sign in to leave a comment