Skip to Content

Teologi Kepemimpinan Perempuan dan Mandat "Merawat KOPRI"

Penulis: Sarina (Alumni Sekolah Kader Kopri 2026)
July 4, 2026 by
Teologi Kepemimpinan Perempuan dan Mandat "Merawat KOPRI"
Korps PMII Putri Sulawesi Selatan
| No comments yet

Sumber foto: Dokumentasi pribadi Sarina

Dalam perspektif Islam (sebagai mayoritas di Sulsel), konsep "merawat" sejalan dengan misi Khilafah (perawat bumi) dan Rahmatan lil 'Alamin. Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) di Sulawesi Selatan harus menjadi jembatan antara nilai keagamaan, kearifan lokal (Pangngadereng), dan tantangan zaman modern.

Sulawesi Selatan dikenal sebagai wilayah yang kokoh memegang teguh adat istiadatnya. Struktur sosial masyarakat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja diikat oleh tali spiritualitas dan falsafah hidup yang mendalam. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi yang mendisrupsi berbagai lini kehidupan, tantangan terbesar daerah ini adalah bagaimana menjaga akar tradisi agar tidak tercerabut, sekaligus melakukan transformasi peradaban yang inklusif.

Dalam konteks ini, Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis. Sebagai organisasi kader perempuan yang berlandaskan Islam Ahlussunnah wal Jama'ah, KOPRI tidak hanya dituntut menjadi penonton, melainkan motor penggerak. 

Secara normatif-teologis, Islam menempatkan laki-laki dan perempuan dalam posisi yang setara sebagai Khalifah fi al-Ardh (pemimpin/pengelola bumi). Tugas khilafah ini secara esensial adalah tugas "merawat" menjaga kedamaian, menegakkan keadilan, dan mencegah kerusakan (fasad).

Dalam QS. At-Taubah [9]: 71 Allah berfirman: "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang munkar..."

Dalam perspektif ini, KOPRI Sulsel menjalankan mandat teologis tersebut. "Merawat Sulsel" bukan sekadar slogan geopolitik, melainkan manifestasi iman. Ketika KOPRI bergerak melakukan advokasi isu-isu perempuan, pendidikan anak di pelosok, atau penguatan ekonomi siber bagi perempuan, hal itu merupakan bentuk konkret dari amar makruf nahi munkar.

KOPRI memposisikan agama bukan sebagai dogma yang mengekang perempuan di ruang domestik, melainkan sebagai inspirasi pembebasan dan pengabdian publik.

Sinkretisme Positif: Membumikan Nilai Islam dalam Tradisi Sulsel

Salah satu kekuatan peradaban di Sulawesi Selatan adalah konsep Pangngadereng (Bugis) atau Pangadakkang (Makassar), yaitu sistem adat yang mengatur tata krama, hukum, dan moralitas masyarakat. Di dalamnya terkandung nilai Siri' na Pacce (harga diri dan rasa kemanusiaan/empati).

Perspektif agama yang inklusif melihat bahwa tradisi lokal ini sangat kompatibel dengan prinsip-prinsip Islam (al-’adah al-muhakkamah: adat bisa menjadi hukum). KOPRI Sulsel bertindak sebagai filter budaya:

a. Merawat Nilai Luhur: KOPRI mengadopsi nilai Pacce (empati mendalam) ke dalam gerakan sosial mereka, seperti mendampingi korban kekerasan seksual atau membantu perempuan di daerah pesisir dan pegunungan Sulsel yang mengalami ketimpangan akses ekonomi.

b. Transformasi Tradisi Patriarki: Di sisi lain, ada bias jender dalam beberapa tafsir tradisi yang menempatkan perempuan sekadar sebagai pelengkap benteng Siri' (harga diri) keluarga tanpa hak suara yang setara. Di sinilah KOPRI masuk membawa perspektif agama yang progresif (perspektif keadilan gender dalam Islam/Fiqh Nisa), melakukan dekonstruksi tanpa harus merusak tatanan adat. KOPRI menunjukkan bahwa perempuan Sulsel bisa menjadi pemimpin tanpa kehilangan identitas kesopanannya.

KOPRI dan Transformasi Peradaban di Era Digital

Peradaban modern hari ini digerakkan oleh teknologi. Sulawesi Selatan menghadapi tantangan serius seperti maraknya judi online, degradasi moral remaja, tingginya angka pernikahan anak, hingga stunting. Bagaimana perspektif agama menjawab tantangan ini melalui KOPRI?

Transformasi peradaban dalam Islam dikenal dengan istilah Tajdid (pembaharuan). KOPRI Sulsel harus melakukan transformasi gerakan dari yang sifatnya konvensional (demonstrasi di jalanan saja) menuju gerakan intelektual digital dan berbasis kebijakan (policy advocacy).

a. Sektor Pendidikan dan Dakwah Digital: KOPRI mengemas nilai-nilai Islam ramah perempuan melalui konten kreatif untuk melawan narasi ekstremisme dan patriarki yang kerap bertebaran di media sosial anak muda Sulsel.

b. Sektor Pendampingan Sosial: Berdasarkan data, Sulsel masih memiliki angka pernikahan dini yang cukup menantang. Perspektif keagamaan KOPRI yang moderat mengedukasi masyarakat bahwa pernikahan dalam Islam memerlukan kematangan istitha'ah (kemampuan fisik, mental, dan finansial), sehingga merawat generasi masa depan Sulsel terhindar dari lingkaran kemiskinan dan stunting.

Merawat Sulawesi Selatan adalah kerja peradaban yang panjang. KOPRI Sulsel, dengan mengintegrasikan perspektif agama yang moderat (wasathiyah) dan kearifan lokal, memegang kunci emas untuk transformasi ini. Agama tidak diletakkan sebagai menara gading, melainkan sebagai ruh yang menghidupkan tradisi Siri' na Pacce dan mengarahkannya menuju kemajuan zaman.

Melalui kepemimpinan perempuan yang progresif, KOPRI membuktikan bahwa merawat tradisi tidak berarti mandek secara intelektual, dan melakukan transformasi tidak berarti kehilangan jati diri spiritual.


Teologi Kepemimpinan Perempuan dan Mandat "Merawat KOPRI"
Korps PMII Putri Sulawesi Selatan July 4, 2026

Share this post

Archive

Sign in to leave a comment